Kebohongan ‘Berkah’


Malam merayap pelan di desa kecil itu. Di bawah bayang-bayang pohon kelapa yang melambai, Pak Fadil duduk di beranda rumahnya. Tangan tuanya menggenggam cangkir teh, sementara matanya menatap jauh ke langit senja yang berpendar jingga. Ia bukan orang kaya, bukan pula pemuka agama yang dihormati, tapi namanya selalu disebut dalam doa banyak orang.


“Pak Fadil, entah bagaimana, sawah panjenengan selalu menghasilkan padi yang lebih wangi dan berlimpah,” ujar Karso, tetangganya yang sering kebingungan dengan hasil panennya sendiri.


Pak Fadil tersenyum. “Mungkin bukan soal padi, Karso. Mungkin soal cara kita melihat dunia.”


Karso mengernyit. Ia tahu bahwa sawah Pak Fadil tidak lebih luas dari sawahnya. Tanahnya juga sama, air irigasi pun mengalir dari sumber yang sama. Tapi hasil panennya? Seolah ada tangan tak terlihat yang menambah berat karung-karung beras milik Pak Fadil.


Suatu malam, Karso mengintip dari kejauhan. Ia melihat Pak Fadil berjalan ke sawahnya, duduk di pematang, dan berdoa dalam diam. Tidak ada mantra atau sesajen. Hanya bisikan lirih yang mengalir ke langit. Kemudian, ia melihat Pak Fadil membagikan sebagian hasil panennya kepada beberapa petani yang gagal panen.


“Kenapa panjenengan tidak menyimpan semuanya? Itu ‘kan hasil kerja keras panjenengan sendiri?” tanya Karso keesokan harinya.


Pak Fadil menghela napas, menatap langit yang mulai membiru. “Keberkahan itu bukan soal berapa banyak yang kita miliki, tapi bagaimana sesuatu yang sedikit bisa mencukupi banyak.”


Karso diam. Kata-kata itu mengingatkannya pada petuah orang tua di desanya, “Rezeki itu ibarat air sumur, makin sering diambil, makin jernih dan tak pernah habis.”


Namun Karso tak puas. Ia ingin membuktikan sesuatu. Jika Pak Fadil mendapatkan hasil panen lebih baik karena berbagi, apakah itu berarti jika ia melakukan hal yang sama, panennya juga akan melimpah? Maka tahun itu, ia mencoba membagi sedikit hasil panennya ke beberapa petani lain. Namun hasilnya? Tidak ada yang berubah. Bahkan, panennya tahun itu malah lebih buruk.


Dengan kesal, Karso menemui Pak Fadil. “Aku sudah berbagi, tapi hasil panenku tetap saja jelek. Apa yang sebenarnya panjenengan lakukan?”


Pak Fadil menatap Karso lama, lalu tersenyum. “Kau berbagi supaya mendapatkan lebih, bukan?”


Karso terdiam.


“Sawahmu tak butuh lebih banyak pupuk, Karso. Hatimu yang butuh dipupuk.”


Karso mulai mengerti. Berbagi bukanlah alat tukar untuk mendapat keberkahan. Ia adalah cermin ketulusan, bukan transaksi. Malam itu, ia merenung lama di pematang sawahnya, ditemani bintang-bintang yang berpendar redup.


Tahun berikutnya, tanpa memikirkan apakah hasil panennya akan bertambah atau tidak, ia berbagi dengan tulus, tanpa harap kembali. Dan anehnya, panennya kali ini lebih banyak dari yang pernah ia bayangkan. Tapi lebih dari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa cukup.


Di langit senja yang sama, Pak Fadil kembali menatap cakrawala. Ia tahu, keberkahan itu tidak kasat mata, tapi selalu ada—mengalir seperti air yang tenang, memberi kehidupan tanpa perlu terlihat.[]


Penulis: Adha Nafi'atur Rofiah, bisa disapa di Instagram @tokosulap__ Alumni MABTU 2018, Dewan Redaksi El Kataba 2016

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.