Kebohongan ‘Berkah’
“Pak Fadil, entah bagaimana, sawah
panjenengan selalu menghasilkan padi yang lebih wangi dan berlimpah,” ujar Karso, tetangganya yang
sering kebingungan dengan hasil panennya sendiri.
Pak Fadil tersenyum. “Mungkin
bukan soal padi, Karso. Mungkin soal cara kita melihat dunia.”
Karso mengernyit. Ia tahu bahwa
sawah Pak Fadil tidak lebih luas dari sawahnya. Tanahnya juga sama, air irigasi
pun mengalir dari sumber yang sama. Tapi hasil panennya? Seolah ada tangan tak
terlihat yang menambah berat karung-karung beras milik Pak Fadil.
Suatu malam, Karso mengintip dari
kejauhan. Ia melihat Pak Fadil berjalan ke sawahnya, duduk di pematang, dan
berdoa dalam diam. Tidak ada mantra atau sesajen. Hanya bisikan lirih yang
mengalir ke langit. Kemudian, ia melihat Pak Fadil membagikan sebagian hasil
panennya kepada beberapa petani yang gagal panen.
“Kenapa panjenengan tidak menyimpan
semuanya? Itu ‘kan hasil kerja keras panjenengan sendiri?” tanya Karso keesokan harinya.
Pak Fadil menghela napas, menatap
langit yang mulai membiru. “Keberkahan itu bukan soal berapa banyak yang
kita miliki, tapi bagaimana sesuatu yang sedikit bisa mencukupi banyak.”
Karso diam. Kata-kata itu
mengingatkannya pada petuah orang tua di desanya, “Rezeki itu ibarat air
sumur, makin sering diambil, makin jernih dan tak pernah habis.”
Namun Karso tak puas. Ia ingin
membuktikan sesuatu. Jika Pak Fadil mendapatkan hasil panen lebih baik karena
berbagi, apakah itu berarti jika ia melakukan hal yang sama, panennya juga akan
melimpah? Maka tahun itu, ia mencoba membagi sedikit hasil panennya ke beberapa
petani lain. Namun hasilnya? Tidak ada yang berubah. Bahkan, panennya tahun itu
malah lebih buruk.
Dengan kesal, Karso menemui Pak
Fadil. “Aku sudah berbagi, tapi hasil panenku tetap saja jelek. Apa yang
sebenarnya panjenengan lakukan?”
Pak Fadil menatap Karso lama, lalu
tersenyum. “Kau berbagi supaya mendapatkan lebih, bukan?”
Karso terdiam.
“Sawahmu tak butuh lebih banyak
pupuk, Karso. Hatimu yang butuh dipupuk.”
Karso mulai mengerti. Berbagi
bukanlah alat tukar untuk mendapat keberkahan. Ia adalah cermin ketulusan,
bukan transaksi. Malam itu, ia merenung lama di pematang sawahnya, ditemani
bintang-bintang yang berpendar redup.
Tahun berikutnya, tanpa memikirkan
apakah hasil panennya akan bertambah atau tidak, ia berbagi dengan tulus, tanpa
harap kembali. Dan anehnya, panennya kali ini lebih banyak dari yang pernah ia
bayangkan. Tapi lebih dari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa
cukup.
Di langit senja yang sama, Pak
Fadil kembali menatap cakrawala. Ia tahu, keberkahan itu tidak kasat mata, tapi
selalu ada—mengalir seperti air yang tenang, memberi kehidupan tanpa perlu
terlihat.[]
Penulis: Adha Nafi'atur Rofiah, bisa disapa di Instagram @tokosulap__ Alumni MABTU 2018, Dewan Redaksi El Kataba 2016
Tidak ada komentar: